PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pendidikan islam adalah teori
pendidikan yang berdasarkan ajaran islam untuk di pedomani dalam praktek
pendidikan. Menurut Ahmad Tafsir, dalam
ilmu pendidikan islam sekurang-kurangnya dapat menyediakan teori mengenai
pendidikan di rumah tangga, pendidikan masyarakat dan pendidikan di sekolah.
Dan disini kita akan membahas tentang pendidikan islam di lingkungan keluarga,
karena banyak yang belum mengetahui bagaimana peranan keluarga dalam pendidikan
islam dan bagaimana pola asuh di lingkungan keluarga agar menjadi keluarga
bahagia dan akan lebih jelas di bahas pada pembahasan berikutnya.
Pengetahuan mengenai bentuk-bentuk
lingkungan keluarga anak didik amat perlu diketahui oleh para guru,karena
dengan itu ia akan lebih dapat memahami anak yang bersangkutan. Pengetahuan itu
akan membawa guru untuk melakukan pilihan yang tepat terhadap alat-alat
pendidikan yang seharusnya ia gunakan dalam membimbing perkembangan anak,lahir
maupun batin. Adalah jelas bahwa seringkali harus dilakukan perlakuan maupun
didikan yang berbeda terhadap anak yang dalam keluarganya memperoleh didikan
keras atau lemah terhadap anak yang terlantarkan,anak yang sosial dan anak dari keluarga
yang harmonis.kemiskinan juga menjadi sebab keterlantaran anak dalam berbagai
aspek : jasmaniah,sosial,mental,dan hidup keagamaan.
Anak-anak modern,khususnya yang
hidup dikota-kota besar sering terlampau cepat mempelajari atau mengetahui
sesuatu yang sebenarnya tidak cocok atau belum sesuai dengan dirinya. Keadaan
itu teterutama dipacu oleh siaran-siaran radio dan televise yang di dengar dan
dilihatnya, Koran yang dibacanya,film yang ditontonnya dan pemanfaatan masa
senggang yang diperlihatkan oleh orang-orang dewasa. Namun demikian,terlepas
dari “keuntungan dan kerugian” yang mungkin ditimblkan oleh kemajuan dan citra
baru mengenai “keluarga bahagia”,unsur utama yang menjadi landasan pokok dalam
pendidikan dilingkungan keluarga manapun adalah tetap, yaitu adanya rasa kasih
sayang dan terselenggaranya kehidupan beragama yang mewarnai kehidupan pribadi
atau keluarga.
Suatu kehidupan keluarga yang baik,
sesuai dan tetap menjalankan agama yang dianutnya merupakan persiapan yang baik
untuk memasuki pendidikan sekolah, oleh karena melalui suasana keluarga yang
demikian itu tumbuh perkembangan efektif anak secara “benar” sehingga ia dapat
tumbuh dan berkembang secara wajar. Keserasian yang pokok harus terbina adalah
keserasian antara ibu dan ayah, yang merupakan komponin pokok dalam setiap
keluarga. Seorang ibu secara intuisi mengetahui alat-alat pendidikan apa yang
baik dan dapat digunakan. Sifatnya yang lebih halus dan perasa itu merupakan
imbangan terhadap sifat seorang ayah.Keduanya merupakan unsur yang saling
melengkapi dan isi mengisi yang membentuk suatu keserasian dan keseimbangan
dalam kehidupan suatu keluarga.[1]
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa pengertian pendidikan
Islam ?
2.
Apa yang di maksud
dengan lingkungan keluarga ?
3.
Bagaimana pola asuh
dalam lingkungan keluarga ?
4.
Bagaimana pendidikan
islam dilingkungan keluarga ?
C.
Tujuan
1.
Untuk dapat mengetahui pengertian pendidikan islam
2.
Untuk mengetahui pengertian lingkungan keluarga
3.
Untuk mengetahui pola asuh dalam keluarga
4.
Untuk mengetahui pendidikan islam dilingkungan keluarga
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pendidikan Islam
Pengertian
pendidikan islam
a. Menurut
bahasa (lughatan) / Etimology
Dalam konteks
islam, pendidikan secara bahasa/ lughatan ada tiga bahasa yang digunakan.
Ketiga kata tersebut, yaitu :
1) At-tarbiyah
berakar dari tiga kata yakni pertama, berasal dari kata rabba yarbu yang
artinya bertambah dan tumbuh. Kedua berasal dari kata rabbiya rabbi yang artinya tumbuh dan
berkembang. Ketiga berasal dari kata rabba yarubbu yang artinya memperbaiki, membimbing,
menguasai memimpin menjaga dan memelihara.
2) Al-ta’lim
berasal dari kata fi’il tsulasi mazid biharfin wahid, yaitu ‘allama yu’allimu
menjadi allama yang artinya mengajar.
3) Al-ta’adib
berasal dari kata tsulasi maszid bihaijmn wahid, yaitu ‘addaba yu’addibu. Jadi
‘addaba artinya member adab.
Selain ketiga
kata di atas ada lagi istilah “riadhah” yang berarti pelatihan .
b. Menurut
istilah ( ishtilahan ) / terminology
Berdasarkan
hasil seminar pendidikan islam se-indonesia tahun 1960 dirumuskan, pendidikan
islam adalah bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran
islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, mengawasi
berlakunya semua ajaran islam.
Berdasarkan
beberapa rumusan dikemukakan oleh para ahli pendidikan maka pendidikan islam
dapat dirimuskan sebagai berikut : proses transinternalisasi pengetahuan dan
nilai-nilai islam kepada peserta didik melalui upaya pengajaran, pembiasan,
bimbingan, pengasuhan, pengawasan, dan pengembangan potensinya, guna mencapai
keselarasan dan kesempurnaan hidup di dunia dan di akhirat.
2. Pengertian
Ilmu Pendidikan Islam
Pendidikan
ilmu pendidikan islam adalah teori pendidikan berdasarkan ajaran islam untuk
dipedomani dalam praktek pendidikan. Menurut ahmad tafsir, dalam ilmu
pendidikan islam sekurang-sekurangnya dapat menyediakan teori mengenai
pendidikan islam dirumah tangga pendidikan dimasyarakat dan pendidikan
disekolah sedangkan pelaksanaan pendidikan sesuai dengan apa yang terkandung
dalam istilah ta’lim, ta’dib, dan tarbiyah.[2]
B. Lingkungan Keluarga
Keluarga
adalah orang-orang yang mempunyai hubungan sedarah atau orang-orang yang
berasal dari satu keturunan.
Lingkungan
keluarga merupakan masyarakat alamiah yang pergaulan di antara anggotanya
bersifat khas.Dalam lingkungan keluarga ini terletak dasar-dasar pendidikan. Di
sini pendidikan berlansung dengan sendirinya sesuai dengan tatanan pergaulan
yang berlaku didalamnya,artinya tanpa harus diumumkan atau dituliskan terlebih
dahulu agar diketahui dan diikuti oleh seluruh anggota keluarga. Disini
diletakkan dasar-dasar pengalaman melalui rasa kasih sayang dan penuh
kecintaan,kebutuhan akan kewibawaan dan nilai-nilai kepatuhan. Justru karena
pergaulan yang demikian itu berlansung dalam hubungan yang bersifat pribadi dan
wajar, maka penghayatan terhadapnya mempunyai arti yang amat penting.
C.
Pola
Asuh Dalam Lingkungan Keluarga
Orang tau
berfungsi sebagai pendidik kepada anak anaknya, sedangkan anak anak adalah
titipan allah atau amanah yang di berikan kepada orang tua. Sebagai titipan
allah swt. , anak merupakan anugerah, sekaligus ujian dari-Nya. Keadaan anak
yang belum dewasa dan belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri,
masih membutuhkan orang tua nya atau orang dewasa lainnya.
Anak dirasakan sebagai anugerah
oleh orang tuanya terlihat dari kasih sayang yang diberikan kepadanya sebab
anak adalah pelanjut hidup dari penyambung turunan. Kasih sayang orang tua
terhadap anak termasuk naluri asli manusia, bahkan naluri dari seluruh yang
bernyawa. Orang tua merasa bahagia pada hari tuanya dan rela menghadapi maut
jika anak sudah besar dan memenuhi harapan, yakni ketika anak menjadi dewasa
dan soleh, sehingga anak mampu mendoakan orang tuanya untuk kebaikan dunia akhirat.
Kebahagiaan orang tua tidak hanya disebabkan oleh anugerah berupa akhlak saleh,
tetapi juga oleh kemampuan orang tua itu menjalankan amanah untuk mendidik
anaknya.
Selain sebagai anugerah dari orang
tua, anak sebagai titipan allah swt. Dapat pula sebagai ujian atu fitnah.
Rasulullah saw bersabda yang artinya :
“anak itu buah hati dan
sesungguhnya dia adalah penyebab kekecutan hati, kekikiran dan sediahan ” .Orang tua pemikul
tanggung jawab masa depan anak
Pendidikan karakter yang di
selenggarakan dalam lingkungan keluarga merupakan bimbingan dan pertolongan
orang tua kepada anaknya yang di berikan secara sadar sesuai dengan
perkembangan jasmani (fisik) dan rohaninya (psikis) kearah kedewasaan yang
sempurna. Dalam mencari nilai nilai hidupnya anak idealnya dapat di arahkan
untuk dibimbing sepenuhnya oleh para pendidik, terutama orang tua. Menurut
ajaran islam saat anak dilahirkan berada dalam keadaan lemah dan suci (fitrah),
sebagaimana sabda rasulullah saw, yang diriwayatkan oleh imam tirmidzi, sebagai
berikut:
“anak yang dilahirkan itu telah
membawa fitrah (kecenderungan untuk percaya kepada allah)”, maka orang
tuanyalah yang menjadikan anak tersebut yahudi, nasrani atau majusi . Sesuai dengan
kesuciannya dalam struktur manusia,allah telah memberi seperangkat kemampuan
dasar yang memilih kecendrungan berkembang. Dalam psikologi,dasar itu disebut
“potensialitas” atau “disposisi” yang menurut aliran psikologi behaviorisme
disebut prepotence replexes atau kemampuan dasar yang secara otomatis dapat
berkembang. Dalam
perfekstif islam,kemampuan dasar itu dengan fitrah yang dalam pengertian
etimologis mengandung makna kejadian atau suci. Dalam Q.S. Ar-rum ayat 30-33, yang Artinya:
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan
Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah)
agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. dengan kembali
bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan
janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang
memecah-belah agama mereka dan
mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa
yang ada pada golongan mereka.dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya,
mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya, kemudian apabila
Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat daripada-Nya, tiba-tiba
sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya, Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan
Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid.
kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka
tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan Maksudnya: meninggalkan
agama tauhid dan menganut pelbagai kepercayaan menurut hawa nafsu mereka. Yang
dimaksudkan dengan rahmat disini ialah lepas dari bahaya itu".
Berdasarkan
al-qur’an dan hadist diatas,dipahami bahwa fitrah adalah kemampuan dasar
manusia yang berkembang secar dinamis,dianugerahkan oleh allah kepadanya dan
mengandung komponen-komponen yang bersifat dinamis dan responstif terhadap
pengaruh lingkungan sekitar,termasuk pengaruh pendidikan. Anak memiliki bakat
yang harus dikembangkan serta dimotivasi oleh keluarganya seoptimal mungkin.
Untuk
mengembangkan kemampuan dasar dari bakat, pendidikan karakter merupakan sarana
yang manentukan kemampuan kemampuan tersebut dapat dicapai, dan perilaku anak
tumbuh dengan sumber nilai islami.
Perkembanagan
karakter anak berkaitan dengan pola asuh orang tua. Ada beberapa pola asuh yang
diterapkan orang tua kepada anaknya yaitu:
1.
Otoriter, yaitu orang
tua yang mengatur sepenuhnya keadaan anak
2.
Demokratif, yaitu
adanya kerja sama saling bertukar pikiran antara anak dan orang tua;
3.
Permisip, yaitu orang
tua yang membolehkan keinginan anak, tidak pernah tersirat adanya kehawatiran
terhadap akibat yang akan diterima oleh anak dan orang tuanya;
4.
Moderat,yaitu
adakalanya orang tau harus otoriter untuk hal yang darurat, dan ada saatnya
berlaku demokratis.Kesalahan keluarga dalam mendidik anak mempengaruhi
perkembangan kecerdasan emosi anak . kesalahan dalam pengasuhan anak berakibat
pada kegagalan dalam pembentukan karakter yang baik. Beberapa kesalahan orang
tua dalam mendidik anak dapat
mempengaruhi kecerdasan emosi anak, di anataranya :
a.
Terlalau sibuk bekerja
sehingga kurang komunikasi dengan anak ;
b.
Kurang memberikan kasih
sayang;
c.
Selalu mengukur rasa
cinta kepada anak dengan materi ;
d.
Selalu bertengkar di
depan anak ;
e.
Gagal menjalankan rumah
tangganya dengan perceraian ;
f.
Membiarkan
kawan-kawannya tanpa aturan bermain di dalam rumah ;
g.
Tidak beribadah ;
D.
Pendidikan
Islam Dalam Lingkungan Keluarga
Lingkungan
pertama dalam pendidikan islam adalah lingkungan keluarga. Dalam lingkungan
keluarga orang tua menentukan pola pembinaan pertama bagian akan. Ajaran islam
menekankan agar setiap manusia dapat memelihara keluarganya dari bahaya akan api neraka. Juga
termasuk menjaga anak dan harta agar tidak menjadi fitnah,yaitu dengan mendidik
anak sebaik-baiknya. Pendidikan anak mutlak dilakukan oleh orang tuanya untuk
menciptakan keseluruhan pribadi anak yang maksimal.anakharus mengetahui yang
jenis-jenis kebajikan dan keburukan dapat memilih dan memilahny asekaligus
mengamalkannya. Melalui pendidikan terhadap anak khususnya, orang tua akan
terhindar dari bahaya fitnah dan terhindar pula dari siksaan api neraka,
sebagaimana firman Allah dalam surat At-Tahrim ayat 6.
Artinya :Hai orang-orang yang
beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan
tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Lingkungan
keluarga diharapkan dapat memberikan kesadaran kepada anak-anaknya karena anak
adalah titipan Allah sebagaiamana yang wajib di jaga perkembangannya. Dalam
konsepsi pendidikan islam,anak-anak bagi keluarga atau orang tua adalah ujian
yang bera tdari Allah SWT dan orang tua tidak boleh berkhianat. Pendidikan anak
harus diutamakan,mendidik anak harus menggunakan strategi dan kiat-kiat yang
dapat di terima oleh akal anak.;orang tua tidak memaksakan kehendaknya sendiri
kepada anak;dan menjaga anak untuk tetap menunaikan shalat fardhu dan berbuat
kebajikan.
Lingkungan keluarga terdiri atas ayah,ibu,
anak-anak dan saudara kandung,kerabat dekat yang serumah dan termasuk pembantu
rumah tangga. Mereka semua harus berfungsi sebagai pendidik yang patut di
teladani oleh anak-anak dalam usia perkembangan spritualanya. Demikian
juga,berkaitan dengan proses pendewasaan berfikir dan bertindak dalam realitas
kehidupan sehari-hari.
Orang tua dan anggota keluarga yang serumah sebagai pendidik.
Sedangkan pendidik adalah profil manusia yang setiap hari didengar
perkataannya,dilihat,dan di tiru perilakunya oleh anak-anaknya. Oleh karena itu
anggota keluarga yang secara langsung bertugas sebagai pendidik harus melakukan
hal berikut:
1. Mengajarkan
aspek-aspek yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah dan tata cara beramal
saleh.
2. Menjalankan
ibadah dengan taat.
3. Ikhlas
dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai orang tua atau orang yang
dituakan dalam lingkungan keluarga.
4. Memberi
contoh keteladanan.
5. Tegas
dan berwibawa dalam menghadapi masalah yang dialami anak-anak dan bijak dalam
mengambil keputusan.
6. Berbicara
dengan bahasa yang santun.
7. Mendengarkan
pendapa tanak-anaknya.
8. Mengarahkan
dan mengembangkan minat serta bakat anak-anaknya .
9. Berpakaian
yang sopan dan rapi agar ditiru oleh anak-anaknya.
10. Menghargai
waktu,jujur,sederhana dan benar.
11. Tidak
sewenang-wenang atau pemarah dan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan,berlaku
adil dan apa adanya.
12. Senantiasa
memberikan peluang dan kesempatan kepada anak-anaknya untuk mengajukan berbagai
pendapat;
13. Sabar
dalam menghadapi kenakalan anak didiknya;
14. Memahami
perkembangan mentalitas atau emotionalitas anak-anak.
Lingkungan
keluarga menjadi tolak ukur keberhasilan anak dalam pendidikan. Oleh Karena
itu,terutama orang tua yang memikul tanggung jawab terbesar dalam pendidikan
anak,sepatutnya mengembangkan potensi dirinya melalui keikutsertaannya dalam
acara-acara yang bermanfaat,misalnya peengajian,berorganisasi dan sebagainya.
Dengan demikain, ilmu pengetahuanya semakin berkembang dan memberikan manfaat
untuk pengembangan pendidikan islam dalam lingkungan keluarga.
Pendidikan islam telah ditanamkan sejak dalam kandungan.Rasulullah SAW.
memerintahkan kepada ibu-ibu yang sedang mengandung agar banyak melakukan zikir
dan membaca Al-Qur’an serta berdo’a demi keselamatan dan perkembangan janin
dalam kandungan. Disamping itu, para ulama memberikan contoh untuk
memperdengarkan azan dan iqamat di telinga anak yang baru dilahirkan sebagai kalimat yang
mengandung ketauhidan kepada Allah SWT.
Setelah anak dilahirkan,ajaran islam menganjurkan bahkan
mewajibkan bagi orang tua yang memiliki kemampuan ekonomi untuk melaksanakan
akikah bagi anaknya, pada usia 7 hari,14 hari,atau 21 hari. Bahkan,jika baru
memiliki kemampuan ekonomi saat anak telah dewasa,akikah diperkenankan oleh
ajaran islam sebagai tebusan bagi anak yang diamanatkan kepada keluarga oleh
Allah SWT.
Perkembangan usia anak dan mentalitas anak menjaditanggung jawab keluarga.
Orangtua diharapkan membentuk lingkungan keluarga yang islami karena anak mudah
meniru seluruh perbuatan anggota keluarga yang dilihatnya. Anak akan merekam dan melakukan tindakan
yang didengar sebagai hasil rekamannya. Semua aktivitas dalam keluarga yang
diperintah dan diarahkan seperti menonton acara di televisi,mendengarkan
radio,menggunakan internet telepon seluler.cara bergaul dilingkungan
masyarakat,bergaul dengan teman sekolahnya,dan teman sebayanya,terutama ketika
anak menginjak masa puber yang sangat membutuhkan perhatian dan pembinaan.
Keluarga,terutama
orangtua harus memantau kegiatan anak-anaknya dirumah agar semua yang
dihadapinya dapat di selesaikan dengan hati yang senang dan gembira. Oleh
karena itu semua anggota keluarga dituntut untuk mengetahui sedikit banyak mata
pelajaran yang dihadapi anak-anaknya supayatidak semua pekerjaan harus
diselesaikan diluar rumah,apalagi pekerjaan diluar rumah tidak terawasi.hal itu
akan menciptakan sikap anak diluar kendali keluarga dan orangtuanya.[4]
Ilmu pendidikan islam telah menunjukkan
pada tataran konseptual proses pendidikan dalam keluarga sebagai realisaisi
tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anaknya, antara lain adalah aspek
aspek pendidik (islam) yang sangat penting untuk diperhatikan oleh orang tua
dalam mendidik anaknya. Aspek aspek tersebut adalah aspek pendidikan ibadah,
aspek pokok pokok ajaran islam dan membaca al-qur’an, aspek pendidikan akhlakul
karimah dan aspek pendidikan akidah islamia.
Aspek berikutnya dalam pendidikan islam
pada keluarga adalah pendidikan akidah islami. Akidah adalah inti dari dasar
keimanan seseoarang yang harus ditanamkan kepada anak secara dini.Akidah
islamiah itu berkaitan dengan keyakinan anak sejak didalam Rahim. Anak terus
menerus digembleng agar memahami zat allah yang maha esa dan sifat sifatnya .yang
prtama di tekankan kepada anak adalah kehidupan yang rukun didalam rumah
tangga. Orang tua memberi contoh dan teladan kepada anak dengan mengajak mereka
melaksanakan solat berjemaah, berlatih melakukan puasa Ramadan dan berbagai
kegiatan yang menciptakan watak dan kbiasaan anak.Dengan perbuatan yang baik
menurut tuntnan agama, terutama ketauhidannya yang bulat dan utuh.
Hal ini telah disebutkan dalam al-qur’an surat
luqman ayat 13.
Artinya :
dan (ingatlah) ketika Luqman berkata
kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku,
janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah)
adalah benar-benar kezaliman yang besar".
Uraian mengenai tanggung jawab seseorang
dalam pendidikan anak anaknya yang di uraikan sangat penting bagi umat islam.
Hal ini karena hancurnya akhlak anak anak kita berawal dari hancurnya hubungan
ayah dan ibu, hubungan suami dan istri. Keluarga yang melalaikan prinsip
prinsip pembinaan islami dalam rumah tangganya akan mendapatkan keadaan
rumahnya bagaikan neraka. Setiap hari akan ditemukan suara suara bentakan, kata
kata kasar, dan perilaku yang bertentangan dengan kehendak agama.
Dengan keadaan demikian, orang tua telah
menciptakan anak yang dipersiapkan untuk mengahadapi masa depan dengan
kehancuran dan penyesalan yang tiada akhir. Oleh karena itu, agar tidak
mengalaminya, orang tua harus kembali pada tugas, fungsi,dan tanggung jawabnya.
Pembinaan anak didalam keluarga merupakan alat dan media pendidikan islam yang
pertama. [5]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pendidikan
islam adalah proses
transinternalisasi pengetahuan dan nilai-nilai islam kepada peserta didik
melalui upaya pengajaran, pembiasan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan, dan pengembangan
potensinya, guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup di dunia dan di
akhirat. Lingkungan pertama
dalam pendidikan islam adalah lingkungan keluarga. Ilmu pendidikan islam
telah menunjukkan pada tataran konseptual proses pendidikan dalam keluarga
sebagai realisaisi tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anaknya, antara
lain adalah aspek aspek pendidik (islam) yaitu
:
1.
Aspek pendidikan
ibadah,
2.
Aspek pokok pokok
ajaran islam dan membaca al-qur’an,
3.
Aspek pendidikan
akhlakul karimah
4.
Aspek pendidikan akidah
islamiah.
B.
Saran
Semoga makalah yang kami buat ini dapat bermamfaat
bagi para pemabacanya terutama
bagi kami yang membuatnya
dan juga dapat menambah wawasan
atau pengetahuan, kepada
pembaca sekalian sekian dan terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar