Rabu, 14 Desember 2016

pendidikan Islam

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Pendidikan islam adalah teori pendidikan yang berdasarkan ajaran islam untuk di pedomani dalam praktek pendidikan. Menurut Ahmad Tafsir, dalam ilmu pendidikan islam sekurang-kurangnya dapat menyediakan teori mengenai pendidikan di rumah tangga, pendidikan masyarakat dan pendidikan di sekolah. Dan disini kita akan membahas tentang pendidikan islam di lingkungan keluarga, karena banyak yang belum mengetahui bagaimana peranan keluarga dalam pendidikan islam dan bagaimana pola asuh di lingkungan keluarga agar menjadi keluarga bahagia dan akan lebih jelas di bahas pada pembahasan berikutnya.
Pengetahuan mengenai bentuk-bentuk lingkungan keluarga anak didik amat perlu diketahui oleh para guru,karena dengan itu ia akan lebih dapat memahami anak yang bersangkutan. Pengetahuan itu akan membawa guru untuk melakukan pilihan yang tepat terhadap alat-alat pendidikan yang seharusnya ia gunakan dalam membimbing perkembangan anak,lahir maupun batin. Adalah jelas bahwa seringkali harus dilakukan perlakuan maupun didikan yang berbeda terhadap anak yang dalam keluarganya memperoleh didikan keras atau lemah terhadap anak yang terlantarkan,anak yang sosial dan anak dari keluarga yang harmonis.kemiskinan juga menjadi sebab keterlantaran anak dalam berbagai aspek : jasmaniah,sosial,mental,dan hidup keagamaan.
Anak-anak modern,khususnya yang hidup dikota-kota besar sering terlampau cepat mempelajari atau mengetahui sesuatu yang sebenarnya tidak cocok atau belum sesuai dengan dirinya. Keadaan itu teterutama dipacu oleh siaran-siaran radio dan televise yang di dengar dan dilihatnya, Koran yang dibacanya,film yang ditontonnya dan pemanfaatan masa senggang yang diperlihatkan oleh orang-orang dewasa. Namun demikian,terlepas dari “keuntungan dan kerugian” yang mungkin ditimblkan oleh kemajuan dan citra baru mengenai “keluarga bahagia”,unsur utama yang menjadi landasan pokok dalam pendidikan dilingkungan keluarga manapun adalah tetap, yaitu adanya rasa kasih sayang dan terselenggaranya kehidupan beragama yang mewarnai kehidupan pribadi atau keluarga.
Suatu kehidupan keluarga yang baik, sesuai dan tetap menjalankan agama yang dianutnya merupakan persiapan yang baik untuk memasuki pendidikan sekolah, oleh karena melalui suasana keluarga yang demikian itu tumbuh perkembangan efektif anak secara “benar” sehingga ia dapat tumbuh dan berkembang secara wajar. Keserasian yang pokok harus terbina adalah keserasian antara ibu dan ayah, yang merupakan komponin pokok dalam setiap keluarga. Seorang ibu secara intuisi mengetahui alat-alat pendidikan apa yang baik dan dapat digunakan. Sifatnya yang lebih halus dan perasa itu merupakan imbangan terhadap sifat seorang ayah.Keduanya merupakan unsur yang saling melengkapi dan isi mengisi yang membentuk suatu keserasian dan keseimbangan dalam kehidupan suatu keluarga.[1]
B.  Rumusan Masalah
1.        Apa pengertian pendidikan Islam ?
2.        Apa yang di maksud dengan lingkungan keluarga ?
3.        Bagaimana pola asuh dalam lingkungan keluarga ?
4.        Bagaimana pendidikan islam dilingkungan keluarga ?



C.  Tujuan
1. Untuk dapat mengetahui pengertian pendidikan islam
2. Untuk mengetahui pengertian lingkungan keluarga
3. Untuk mengetahui pola asuh dalam keluarga
4. Untuk mengetahui pendidikan islam dilingkungan keluarga

BAB II
PEMBAHASAN
A.       Pendidikan Islam
Pengertian pendidikan islam
a.       Menurut bahasa (lughatan) / Etimology
Dalam konteks islam, pendidikan secara bahasa/ lughatan ada tiga bahasa yang digunakan. Ketiga kata tersebut, yaitu :
1)      At-tarbiyah berakar dari tiga kata yakni pertama, berasal dari kata rabba yarbu yang artinya bertambah dan tumbuh. Kedua berasal dari kata rabbiya rabbi yang artinya tumbuh dan berkembang. Ketiga berasal dari kata rabba yarubbu yang artinya memperbaiki, membimbing, menguasai memimpin menjaga dan memelihara.
2)      Al-ta’lim berasal dari kata fi’il tsulasi mazid biharfin wahid, yaitu ‘allama yu’allimu menjadi allama yang artinya mengajar.
3)      Al-ta’adib berasal dari kata tsulasi maszid bihaijmn wahid, yaitu ‘addaba yu’addibu. Jadi ‘addaba artinya member adab.
Selain ketiga kata di atas ada lagi istilah “riadhah” yang berarti pelatihan .
b.      Menurut istilah ( ishtilahan ) / terminology
Berdasarkan hasil seminar pendidikan islam se-indonesia tahun 1960 dirumuskan, pendidikan islam adalah bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, mengawasi berlakunya semua ajaran islam.
Berdasarkan beberapa rumusan dikemukakan oleh para ahli pendidikan maka pendidikan islam dapat dirimuskan sebagai berikut : proses transinternalisasi pengetahuan dan nilai-nilai islam kepada peserta didik melalui upaya pengajaran, pembiasan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan, dan pengembangan potensinya, guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup di dunia dan di akhirat.
2.      Pengertian Ilmu Pendidikan Islam
Pendidikan ilmu pendidikan islam adalah teori pendidikan berdasarkan ajaran islam untuk dipedomani dalam praktek pendidikan. Menurut ahmad tafsir, dalam ilmu pendidikan islam sekurang-sekurangnya dapat menyediakan teori mengenai pendidikan islam dirumah tangga pendidikan dimasyarakat dan pendidikan disekolah sedangkan pelaksanaan pendidikan sesuai dengan apa yang terkandung dalam istilah ta’lim, ta’dib, dan tarbiyah.[2]

B.       Lingkungan Keluarga
Keluarga adalah orang-orang yang mempunyai hubungan sedarah atau orang-orang yang berasal dari satu keturunan.
Lingkungan keluarga merupakan masyarakat alamiah yang pergaulan di antara anggotanya bersifat khas.Dalam lingkungan keluarga ini terletak dasar-dasar pendidikan. Di sini pendidikan berlansung dengan sendirinya sesuai dengan tatanan pergaulan yang berlaku didalamnya,artinya tanpa harus diumumkan atau dituliskan terlebih dahulu agar diketahui dan diikuti oleh seluruh anggota keluarga. Disini diletakkan dasar-dasar pengalaman melalui rasa kasih sayang dan penuh kecintaan,kebutuhan akan kewibawaan dan nilai-nilai kepatuhan. Justru karena pergaulan yang demikian itu berlansung dalam hubungan yang bersifat pribadi dan wajar, maka penghayatan terhadapnya mempunyai arti yang amat penting.

C.      Pola Asuh Dalam Lingkungan Keluarga
      Orang tau berfungsi sebagai pendidik kepada anak anaknya, sedangkan anak anak adalah titipan allah atau amanah yang di berikan kepada orang tua. Sebagai titipan allah swt. , anak merupakan anugerah, sekaligus ujian dari-Nya. Keadaan anak yang belum dewasa dan belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri, masih membutuhkan orang tua nya atau orang dewasa lainnya.
Anak dirasakan sebagai anugerah oleh orang tuanya terlihat dari kasih sayang yang diberikan kepadanya sebab anak adalah pelanjut hidup dari penyambung turunan. Kasih sayang orang tua terhadap anak termasuk naluri asli manusia, bahkan naluri dari seluruh yang bernyawa. Orang tua merasa bahagia pada hari tuanya dan rela menghadapi maut jika anak sudah besar dan memenuhi harapan, yakni ketika anak menjadi dewasa dan soleh, sehingga anak mampu mendoakan orang tuanya untuk kebaikan dunia akhirat. Kebahagiaan orang tua tidak hanya disebabkan oleh anugerah berupa akhlak saleh, tetapi juga oleh kemampuan orang tua itu menjalankan amanah untuk mendidik anaknya.
Selain sebagai anugerah dari orang tua, anak sebagai titipan allah swt. Dapat pula sebagai ujian atu fitnah. Rasulullah saw bersabda yang artinya :
“anak itu buah hati dan sesungguhnya dia adalah penyebab kekecutan hati, kekikiran dan sediahan ” .Orang tua pemikul tanggung jawab masa depan anak
Pendidikan karakter yang di selenggarakan dalam lingkungan keluarga merupakan bimbingan dan pertolongan orang tua kepada anaknya yang di berikan secara sadar sesuai dengan perkembangan jasmani (fisik) dan rohaninya (psikis) kearah kedewasaan yang sempurna. Dalam mencari nilai nilai hidupnya anak idealnya dapat di arahkan untuk dibimbing sepenuhnya oleh para pendidik, terutama orang tua. Menurut ajaran islam saat anak dilahirkan berada dalam keadaan lemah dan suci (fitrah), sebagaimana sabda rasulullah saw, yang diriwayatkan oleh imam tirmidzi, sebagai berikut:
“anak yang dilahirkan itu telah membawa fitrah (kecenderungan untuk percaya kepada allah)”, maka orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut yahudi, nasrani atau majusi . Sesuai dengan kesuciannya dalam struktur manusia,allah telah memberi seperangkat kemampuan dasar yang memilih kecendrungan berkembang. Dalam psikologi,dasar itu disebut “potensialitas” atau “disposisi” yang menurut aliran psikologi behaviorisme disebut prepotence replexes atau kemampuan dasar yang secara otomatis dapat berkembang. Dalam perfekstif islam,kemampuan dasar itu dengan fitrah yang dalam pengertian etimologis mengandung makna kejadian atau suci. Dalam Q.S. Ar-rum ayat 30-33, yang Artinya:
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat daripada-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya, Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan Maksudnya: meninggalkan agama tauhid dan menganut pelbagai kepercayaan menurut hawa nafsu mereka. Yang dimaksudkan dengan rahmat disini ialah lepas dari bahaya itu".
            Berdasarkan al-qur’an dan hadist diatas,dipahami bahwa fitrah adalah kemampuan dasar manusia yang berkembang secar dinamis,dianugerahkan oleh allah kepadanya dan mengandung komponen-komponen yang bersifat dinamis dan responstif terhadap pengaruh lingkungan sekitar,termasuk pengaruh pendidikan. Anak memiliki bakat yang harus dikembangkan serta dimotivasi oleh keluarganya seoptimal mungkin.
Untuk mengembangkan kemampuan dasar dari bakat, pendidikan karakter merupakan sarana yang manentukan kemampuan kemampuan tersebut dapat dicapai, dan perilaku anak tumbuh dengan sumber nilai islami.
Perkembanagan karakter anak berkaitan dengan pola asuh orang tua. Ada beberapa pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anaknya yaitu:
1.    Otoriter, yaitu orang tua yang mengatur sepenuhnya keadaan anak
2.    Demokratif, yaitu adanya kerja sama saling bertukar pikiran antara anak dan orang tua;
3.    Permisip, yaitu orang tua yang membolehkan keinginan anak, tidak pernah tersirat adanya kehawatiran terhadap akibat yang akan diterima oleh anak dan orang tuanya;
4.    Moderat,yaitu adakalanya orang tau harus otoriter untuk hal yang darurat, dan ada saatnya berlaku demokratis.Kesalahan keluarga dalam mendidik anak mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi anak . kesalahan dalam pengasuhan anak berakibat pada kegagalan dalam pembentukan karakter yang baik. Beberapa kesalahan orang tua  dalam mendidik anak dapat mempengaruhi kecerdasan emosi anak, di anataranya :
a.         Terlalau sibuk bekerja sehingga kurang komunikasi dengan anak ;
b.         Kurang memberikan kasih sayang;
c.         Selalu mengukur rasa cinta kepada anak dengan materi ;
d.        Selalu bertengkar di depan anak ;
e.         Gagal menjalankan rumah tangganya dengan perceraian ;
f.          Membiarkan kawan-kawannya tanpa aturan bermain di dalam rumah ;
g.         Tidak beribadah ;
h.         Menjadi penjahat, koruptor, dan sindrom terhadap kekuasaan.[3]

D.      Pendidikan Islam Dalam Lingkungan Keluarga
Lingkungan pertama dalam pendidikan islam adalah lingkungan keluarga. Dalam lingkungan keluarga orang tua menentukan pola pembinaan pertama bagian akan. Ajaran islam menekankan agar setiap manusia dapat memelihara keluarganya dari bahaya akan api neraka. Juga termasuk menjaga anak dan harta agar tidak menjadi fitnah,yaitu dengan mendidik anak sebaik-baiknya. Pendidikan anak mutlak dilakukan oleh orang tuanya untuk menciptakan keseluruhan pribadi anak yang maksimal.anakharus mengetahui yang jenis-jenis kebajikan dan keburukan dapat memilih dan memilahny asekaligus mengamalkannya. Melalui pendidikan terhadap anak khususnya, orang tua akan terhindar dari bahaya fitnah dan terhindar pula dari siksaan api neraka, sebagaimana firman Allah dalam surat At-Tahrim ayat 6.
   
Artinya :Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka  dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Lingkungan keluarga diharapkan dapat memberikan kesadaran kepada anak-anaknya karena anak adalah titipan Allah sebagaiamana yang wajib di jaga perkembangannya. Dalam konsepsi pendidikan islam,anak-anak bagi keluarga atau orang tua adalah ujian yang bera tdari Allah SWT dan orang tua tidak boleh berkhianat. Pendidikan anak harus diutamakan,mendidik anak harus menggunakan strategi dan kiat-kiat yang dapat di terima oleh akal anak.;orang tua tidak memaksakan kehendaknya sendiri kepada anak;dan menjaga anak untuk tetap menunaikan shalat fardhu dan berbuat kebajikan.
   Lingkungan keluarga terdiri atas ayah,ibu, anak-anak dan saudara kandung,kerabat dekat yang serumah dan termasuk pembantu rumah tangga. Mereka semua harus berfungsi sebagai pendidik yang patut di teladani oleh anak-anak dalam usia perkembangan spritualanya. Demikian juga,berkaitan dengan proses pendewasaan berfikir dan bertindak dalam realitas kehidupan sehari-hari.
     Orang tua dan anggota keluarga yang serumah sebagai pendidik. Sedangkan pendidik adalah profil manusia yang setiap hari didengar perkataannya,dilihat,dan di tiru perilakunya oleh anak-anaknya. Oleh karena itu anggota keluarga yang secara langsung bertugas sebagai pendidik harus melakukan hal berikut:
1.    Mengajarkan aspek-aspek yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah dan tata cara beramal saleh.
2.    Menjalankan ibadah dengan taat.
3.    Ikhlas dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai orang tua atau orang yang dituakan dalam lingkungan keluarga.
4.    Memberi contoh keteladanan.
5.    Tegas dan berwibawa dalam menghadapi masalah yang dialami anak-anak dan bijak dalam mengambil keputusan.
6.    Berbicara dengan bahasa yang santun.
7.    Mendengarkan pendapa tanak-anaknya.
8.    Mengarahkan dan mengembangkan minat serta bakat anak-anaknya .
9.    Berpakaian yang sopan dan rapi agar ditiru oleh anak-anaknya.
10.  Menghargai waktu,jujur,sederhana dan benar.
11.  Tidak sewenang-wenang atau pemarah dan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan,berlaku adil dan apa adanya.
12.  Senantiasa memberikan peluang dan kesempatan kepada anak-anaknya untuk mengajukan berbagai pendapat;
13.  Sabar dalam menghadapi kenakalan anak didiknya;
14.  Memahami perkembangan mentalitas atau emotionalitas anak-anak.
Lingkungan keluarga menjadi tolak ukur keberhasilan anak dalam pendidikan. Oleh Karena itu,terutama orang tua yang memikul tanggung jawab terbesar dalam pendidikan anak,sepatutnya mengembangkan potensi dirinya melalui keikutsertaannya dalam acara-acara yang bermanfaat,misalnya peengajian,berorganisasi dan sebagainya. Dengan demikain, ilmu pengetahuanya semakin berkembang dan memberikan manfaat untuk pengembangan pendidikan islam dalam lingkungan keluarga.
Pendidikan islam telah ditanamkan sejak dalam kandungan.Rasulullah SAW. memerintahkan kepada ibu-ibu yang sedang mengandung agar banyak melakukan zikir dan membaca Al-Qur’an serta berdo’a demi keselamatan dan perkembangan janin dalam kandungan. Disamping itu, para ulama memberikan contoh untuk memperdengarkan azan dan iqamat di telinga anak yang baru dilahirkan sebagai kalimat yang mengandung ketauhidan kepada Allah SWT.
Setelah anak dilahirkan,ajaran islam menganjurkan bahkan mewajibkan bagi orang tua yang memiliki kemampuan ekonomi untuk melaksanakan akikah bagi anaknya, pada usia 7 hari,14 hari,atau 21 hari. Bahkan,jika baru memiliki kemampuan ekonomi saat anak telah dewasa,akikah diperkenankan oleh ajaran islam sebagai tebusan bagi anak yang diamanatkan kepada keluarga oleh Allah SWT.
Perkembangan usia anak dan mentalitas anak menjaditanggung jawab keluarga. Orangtua diharapkan membentuk lingkungan keluarga yang islami karena anak mudah meniru seluruh perbuatan anggota keluarga yang dilihatnya. Anak akan merekam dan melakukan tindakan yang didengar sebagai hasil rekamannya. Semua aktivitas dalam keluarga yang diperintah dan diarahkan seperti menonton acara di televisi,mendengarkan radio,menggunakan internet telepon seluler.cara bergaul dilingkungan masyarakat,bergaul dengan teman sekolahnya,dan teman sebayanya,terutama ketika anak menginjak masa puber yang sangat membutuhkan perhatian dan pembinaan.
Keluarga,terutama orangtua harus memantau kegiatan anak-anaknya dirumah agar semua yang dihadapinya dapat di selesaikan dengan hati yang senang dan gembira. Oleh karena itu semua anggota keluarga dituntut untuk mengetahui sedikit banyak mata pelajaran yang dihadapi anak-anaknya supayatidak semua pekerjaan harus diselesaikan diluar rumah,apalagi pekerjaan diluar rumah tidak terawasi.hal itu akan menciptakan sikap anak diluar kendali keluarga dan orangtuanya.[4]
Ilmu pendidikan islam telah menunjukkan pada tataran konseptual proses pendidikan dalam keluarga sebagai realisaisi tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anaknya, antara lain adalah aspek aspek pendidik (islam) yang sangat penting untuk diperhatikan oleh orang tua dalam mendidik anaknya. Aspek aspek tersebut adalah aspek pendidikan ibadah, aspek pokok pokok ajaran islam dan membaca al-qur’an, aspek pendidikan akhlakul karimah dan aspek pendidikan akidah islamia.
Aspek berikutnya dalam pendidikan islam pada keluarga adalah pendidikan akidah islami. Akidah adalah inti dari dasar keimanan seseoarang yang harus ditanamkan kepada anak secara dini.Akidah islamiah itu berkaitan dengan keyakinan anak sejak didalam Rahim. Anak terus menerus digembleng agar memahami zat allah yang maha esa dan sifat sifatnya .yang prtama di tekankan kepada anak adalah kehidupan yang rukun didalam rumah tangga. Orang tua memberi contoh dan teladan kepada anak dengan mengajak mereka melaksanakan solat berjemaah, berlatih melakukan puasa Ramadan dan berbagai kegiatan yang menciptakan watak dan kbiasaan anak.Dengan perbuatan yang baik menurut tuntnan agama, terutama ketauhidannya yang bulat dan utuh.
             Hal ini telah disebutkan dalam al-qur’an surat luqman ayat 13.
   
Artinya :
dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
Uraian mengenai tanggung jawab seseorang dalam pendidikan anak anaknya yang di uraikan sangat penting bagi umat islam. Hal ini karena hancurnya akhlak anak anak kita berawal dari hancurnya hubungan ayah dan ibu, hubungan suami dan istri. Keluarga yang melalaikan prinsip prinsip pembinaan islami dalam rumah tangganya akan mendapatkan keadaan rumahnya bagaikan neraka. Setiap hari akan ditemukan suara suara bentakan, kata kata kasar, dan perilaku yang bertentangan dengan kehendak agama.
Dengan keadaan demikian, orang tua telah menciptakan anak yang dipersiapkan untuk mengahadapi masa depan dengan kehancuran dan penyesalan yang tiada akhir. Oleh karena itu, agar tidak mengalaminya, orang tua harus kembali pada tugas, fungsi,dan tanggung jawabnya. Pembinaan anak didalam keluarga merupakan alat dan media pendidikan islam yang pertama. [5]




BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Pendidikan islam adalah proses transinternalisasi pengetahuan dan nilai-nilai islam kepada peserta didik melalui upaya pengajaran, pembiasan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan, dan pengembangan potensinya, guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup di dunia dan di akhirat. Lingkungan pertama dalam pendidikan islam adalah lingkungan keluarga. Ilmu pendidikan islam telah menunjukkan pada tataran konseptual proses pendidikan dalam keluarga sebagai realisaisi tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anaknya, antara lain adalah aspek aspek pendidik (islam) yaitu :
1.         Aspek pendidikan ibadah,
2.         Aspek pokok pokok ajaran islam dan membaca al-qur’an,
3.         Aspek pendidikan akhlakul karimah
4.         Aspek pendidikan akidah islamiah.
B.       Saran
Semoga makalah yang kami buat ini dapat bermamfaat bagi para pemabacanya terutama bagi kami yang membuatnya dan juga dapat menambah wawasan atau pengetahuan, kepada pembaca sekalian sekian dan terima kasih.



[1]Zakiah Daradjat,dkk. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta:Bumi aksara) hal.66
[2] Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta : Kalam Mulia) hal.30
[3] Hamdani & Beni. Pendidikan Karakter Perspektif Islam. (Bandung : Pustaka Setia). hal.171-177
[4] Hasan Basri, Beni Ahmad.Ilmu Pendidikan Islam Jilid 2.(Bandung : Pustaka Setia). hal.113-123
[5] Beni Ahmad  & Hendra Ahdiat.Ilmu Pendidikan Islam 1. (Bandung : Pustaka Setia).hal. 12-15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar